Fajar Ekonomi Baru di Suriah Timur
Wilayah timur Suriah memasuki babak baru setelah pasukan suku lokal secara mengejutkan berhasil mengambil alih kendali di sisa wilayah Deir Ezzor, Raqqa, dan Hasakah yang sebelumnya berada di bawah otoritas Pasukan Demokratik Suriah atau SDF. Peristiwa ini menjadi sorotan luas karena berlangsung tanpa keterlibatan unit militer besar dengan persenjataan berat, melainkan melalui gerakan warga sipil bersenjata dengan koordinasi sederhana namun efektif.
Di banyak desa dan kota strategis, pasukan suku bergerak layaknya sistem keamanan lingkungan yang terorganisasi. Mereka memanfaatkan kedekatan sosial, penguasaan medan, dan dukungan masyarakat setempat untuk mendesak mundur milisi. Dinamika ini menandai titik balik penting di kawasan Jazira yang selama bertahun-tahun menjadi pusat perebutan sumber daya alam Suriah.
Meski demikian, sisa-sisa kekuatan SDF dilaporkan masih bertahan di beberapa kantong perkotaan. Ain Issa, Kobane, dan Qamishli disebut sebagai basis pertahanan terakhir yang masih dijaga ketat. Ketegangan tetap terasa di kota-kota ini karena konsolidasi pasukan suku belum sepenuhnya menembus pertahanan urban yang lebih kompleks.
Tekanan publik terhadap keberadaan SDF terus meningkat seiring meluasnya dukungan rakyat kepada gerakan pengambilalihan wilayah secara mandiri. Di wilayah pedesaan, dukungan ini tampak nyata dalam bentuk logistik, informasi, dan perlindungan sosial yang mempercepat pergeseran penguasaan lapangan.
Organisasi suku yang kini memegang kendali sementara menegaskan tidak berniat mempertahankan kekuasaan secara permanen. Para tokoh adat menyatakan komitmen untuk menyerahkan tanggung jawab keamanan dan administrasi kepada otoritas resmi pemerintah Suriah demi mencegah kekosongan kekuasaan dan memastikan stabilitas nasional.
Langkah tersebut dipandang sebagai sinyal positif bagi normalisasi kehidupan masyarakat. Kerja sama antara struktur adat dan pemerintah pusat diharapkan mempercepat pemulihan hukum dan ketertiban, sekaligus menutup celah bagi kelompok radikal yang kerap memanfaatkan situasi transisi.
Kembalinya wilayah kaya sumber daya ke pangkuan negara membawa angin segar bagi prospek pemulihan ekonomi nasional. Selama ini, Suriah kehilangan potensi pendapatan besar akibat terputusnya akses ke wilayah timur yang menjadi lumbung energi dan pangan.
Presiden Ahmed Al-Sharaa dalam pernyataan terbarunya menyoroti kerugian ekonomi yang sangat besar selama setahun terakhir akibat pendudukan milisi.
Kerugian tersebut diperkirakan mencapai miliaran dolar, dana yang semestinya dapat digunakan untuk membiayai layanan publik dan infrastruktur dasar.
Sektor energi menjadi tumpuan utama yang diharapkan segera pulih. Bendungan di Sungai Efrat memiliki kapasitas produksi listrik hingga sekitar 1.500 megawatt, nilai yang setara dengan satu miliar dolar per tahun. Penguasaan kembali bendungan ini membuka harapan berakhirnya krisis listrik yang membebani rumah tangga dan industri.
Selain listrik, minyak dan gas menjadi tulang punggung kebangkitan ekonomi. Dengan perawatan fasilitas dan pemulihan jalur produksi, produksi minyak Suriah diproyeksikan mampu menembus satu juta barel per hari, dengan potensi pendapatan hingga 20 miliar dolar per tahun yang langsung memperkuat kas negara.
Sektor gas juga menawarkan prospek cerah. Produksi saat ini mencapai sekitar 40 juta meter kubik per jam, sementara kebutuhan domestik hanya separuhnya. Surplus ini memungkinkan kemandirian energi sekaligus membuka peluang ekspor regional.
Di atas tanah, kesuburan Jazira menjadi fondasi ketahanan pangan. Sebelum konflik, Suriah memproduksi hingga empat juta ton gandum per tahun. Dengan dua pertiga produksi berasal dari wilayah yang kini kembali dikuasai, target menghentikan impor gandum kian realistis.
Perkebunan kapas pun diproyeksikan bangkit. Produksi historis mencapai satu juta ton per tahun dengan nilai sekitar 700 juta dolar, menopang industri tekstil nasional dan membuka ribuan lapangan kerja baru bagi pemuda.
Selama satu dekade terakhir, Jazira mengalami penurunan produktivitas akibat tata kelola yang buruk. Meski demikian, wilayah ini tetap menghasilkan sekitar dua miliar dolar per tahun bagi SDF, dana yang dilaporkan tidak berbuah pembangunan publik dan justru banyak dialihkan untuk kepentingan militer.
Sebagian dana tersebut bahkan disebut mengalir ke luar negeri, memicu kemarahan warga suku. Kesadaran akan ketidakadilan distribusi kekayaan inilah yang menjadi bahan bakar perlawanan rakyat di Deir Ezzor dan sekitarnya.
Kini, pemerintah Suriah memikul tanggung jawab besar untuk membuktikan pengelolaan yang lebih adil dan transparan. Penempatan aparat negara dan jaminan kepastian hukum menjadi kunci untuk menarik investasi dan mempercepat rekonstruksi.
Tantangan infrastruktur masih berat akibat kerusakan pipa minyak, jaringan listrik, dan irigasi. Namun dengan jaminan keamanan dan kedaulatan, proses pemulihan diyakini dapat berjalan lebih cepat, didukung meningkatnya kepercayaan publik.
Secara sosial, integrasi kembali wilayah ini berarti menyatukan keluarga yang terpisah dan menghidupkan kembali layanan pendidikan serta kesehatan. Kehadiran negara diharapkan menguatkan rasa kebangsaan di tengah masyarakat suku.
Di sisi lain, posisi SDF yang kian terdesak di kantong-kantong terakhir diprediksi mendorong negosiasi ulang. Tanpa kontrol sumber daya, opsi penyerahan damai menjadi jalan paling rasional untuk menghindari korban sipil.
Optimisme kini menguat di kalangan masyarakat Suriah. Harapan akan turunnya harga kebutuhan pokok, pulihnya listrik, dan menguatnya mata uang nasional menjadi nyata seiring kembalinya sumber daya ke negara.
Keberhasilan pasukan suku menunjukkan peran kunci kekuatan lokal dalam menjaga kedaulatan. Dengan berakhirnya dominasi milisi di Jazira, Suriah membuka lembaran baru menuju pembangunan ekonomi berkelanjutan, menatap masa depan dengan keyakinan yang tumbuh dari tanah timur yang kembali bersatu.
Fajar Ekonomi Baru di Suriah Timur
Reviewed by Redaksi
on
10:22 PM
Rating:







Post a Comment