Latest Post

Rio Haryanto Start ke-19 di Belgia

Written By Redaksi on Friday, August 22, 2014 | 4:52 PM

Pebalap nasional Rio Haryanto menempati start pada posisi ke-19 pada race pertama atau "feature race" seri kedelapan lomba balap mobil GP2 Series di Sirkuit Spa-Francorchamps Belgia, Sabtu waktu setempat.

Victoria Lloyd dari tim EQ8 Caterham Racing dalam surat elektroniknya yang diterima di Semarang, Jateng, Sabtu pagi, menyebutkan pada babak kualifikasi Rio Haryanto yang mendapat dukungan dari Pertamina tersebut menempati posisi ke-19 dengan catatan waktu 1:57.974 dari 12 kali putaran.

Rekan satu tim Rio Haryanto di EQ8 Caterham Racing, pebalap asal Prancis Tom Dilmann menempati start pada posisi ke-14 sesuai dengan hasil babak kualifikasi dengan catatan waktu 1:57.770 dari 11 kali putaran.

"Kualifikasi ini bukan hasil yang baik bagi kami. Kami berjuang banyak di sektor kedua dan saya merasa keseimbangan itu tidak sempurna sehingga tidak bisa sepenuhnya menggunakan ban baru," kata pebalap asal Solo, Jateng, tersebut.

Ia mengaku kecewa dengan hasil itu dan besok atau Sabtu waktu setempat saat tampil pada race pertama berharap hasilnya lebih baik.

"Ada kemungkinan saat race pertama ini akan turun hujan dan ini tentunya akan lebih baik bagi kami untuk memberi kesempatan mencetak poin," katanya.

Rekan Rio Haryanto, Tom Dilmann, juga berharap lomba pada race pertama itu kondisi hujan.

"Seperti halnya Rio Haryanto, saya merasa senang jika hujan," kata pebalap asal Prancis tersebut.

Pada latihan resmi sebelum babak kualifikasi, Rio Haryanto yang mengenakan nomor mobil 18 menempati posisi ke-16 dengan catatan waktu 1:58.800, sedangkan rekannya Tom Dilmann yang mengenakan nomor mobil 19 menempati posisi ke-18 dengan catatan waktu 1:58.923.

Sampai dengan seri ketujuh di Hongaria, Rio Haryanto yang tergabung di tim EQ8 Caterham Racing sejak Januari 2014 itu, menempati posisi ke-13 klasemen sementara dengan total nilai 26.

Total nilai 26 yang diraih Rio Haryanto tersebut, didapat saat tampil pada seri kedua di Sapnyol (meraih nilai 10) dan seri ketiga di Monaco (meraih nilai 16).

Race pertama atau "feature race" dimulai pada Sabtu yang menempuh 25 putaran mulai pukul 15.40 hingga 16.45 waktu setempat, kemudian race kedua atau "sprint race" dilaksanakan, Minggu (24/8) pukul 10.35 hingga 11.25 waktu setempat. (antara)

Khodro Siap Ekspor Produk Otomotif, Jika Sanksi Iran Dihentikan

Written By Redaksi on Saturday, January 18, 2014 | 12:56 AM

Perusahaan otomotif Iran mengatakan, pihaknya akan mengekspor 30 persen produk mereka ke luar negeri bila sanksi ekonomi terhadap Iran dihentikan.

Hal itu dilaporkan media Azerbaijan Trend, Ahad lalu (12/1).

Khodro merupakan perusahaan lokal Iran yang telah mampu memproduksi mobil, truk dengan mesin sendiri dan sudah mendirikan berbagai pabrik di Belarusia, Cina, Afrika dan Venezuela.

Harapan Iran ini akan mengalami kesulitan mengingat sehari sebelumnya, DPA melaporkan, publik Amerika Serikat justru menginginkan penambahan sanksi ekonomi terhadap Iran.

Dukungan itu terlihat dari penolakan Gedung Putih terhadap rancangan peraturan baru, didukung 59 dari 100 senator AS, yang justru menginginkan penerapan sanksi baru kepada Iran dan membuat negosiasi negara-negara kekuatan dunia, P5+1, dan Iran di Jenewa seperti sia-sia.

Namun, Juru Bicara Gedung Putih Jay Carney mengatakan pihaknya akan terus melanjutkan negosiasi itu.

Gedung Putih dan Kongres "mempunyai tujuan yang sama, yakni menghilangkan senjata nuklir Iran. Ini merupakan kebijakan Presiden, dan kami bekerja sama dan ingin melanjutkannya," katanya. (Republika)

Tim Riset Mobil Nasional Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Buat Prototipe Mobnas, 90% Komponen Lokal

Written By Redaksi on Thursday, September 26, 2013 | 1:09 PM

Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berhasil membuat prototipe mobil nasional (mobnas). Persentase komponen yang merupakan buatan lokal mencapai 90%. Kualitasnya juga telah teruji, bahkan bahan lebih baik daripada mobil buatan China.

Ketua Tim Riset Mobil Nasional Bambang Waluyo Febriantoko mengatakan, prototipe mobil nasional yang dibuat bukanlah barang rakitan. Komponen yang tidak dibuat sendiri hanya ban, kaca, lampu, pegas, dan gardan. Sementara untuk mesin, sasis cabin, desain mobil, asli buatan sendiri, sehingga dipastikan berbeda dengan yang di pasaran dan harganya bisa lebih murah jika diproduksi massal. ”Asli buatan sendiri, 90% komponen lokal,” kata Bambang saat peluncuran ulang dan test drive mobil Esemka Sang Surya di SMK Muhammadiyah 2 Borobudur, kemarin.

Menurutnya, UMS ditunjuk oleh Direktorat Pembinaan SMK menjadi laboratorium CAD/CAM/CAE (laboratorium riset desain mobil nasional). Tim riset UMS memiliki tugas hingga tahun 2014 untuk melakukan penelitian dan pengembangan mobil nasional.

Dia menjelaskan, saat ini riset telah memasuki dua tahapan. Tahap pertama berupa pembuatan prototipe telah dilakukan dan hasilnya, jenis mobil minitruck dan SUV. ”Tahapan kedua, membuat dies (cetakan) bagian-bagian mobil,” katanya.

350 Komponen

Dalam pelaksanaannya tidak mudah dan membutuhkan waktu. Menurutnya, satu mobil setidaknya memiliki 350 komponen. Satu komponen dicetak dengan menggunakan tiga dies. Padahal, saat ini hasil riset baru sampai pada satu dies untuk sasis dan fender. Kendala juga terdapat pada dana. Untuk membuat satu dies setidaknya butuh dana Rp 1 miliar.

Pria yang juga menjabat sebagai kepala Laboratorium CAD/CAM/CAE UMS ini menuturkan, setelah dies jadi, pembuatan komponen mobil tidak lagi secara manual, melainkan melalui pressed body. Dies adalah langkah awal untuk produksi massal, karena pembuatannya jauh lebih cepat. ”Dalam satu menit bisa enam sampai tujuh komponen yang dihasilkan,” katanya.

Tim riset dies diberi dana Rp 1,94 miliar oleh Direktorat Pembinaan SMK. Riset di deadline Juni 2012. Setelah itu siap dilakukan proses pencetakan pertama. Proses persiapan pembuatan prototipe mobil nasional sebenarnya sudah dimulai sejak beberapa tahun lalu. ”Untuk membandingkan, kami membedah mobil China. Diteliti bahannya apa saja dan mencoba dibuat dengan bahan yang lebih baik,” katanya.

Sumber

Limited Edition: 40 Mobil Esemka

PT Solo Manufaktur Kreasi (SMK) mulai mendistribusikan 40 mobil Esemka kepada pemesan pertama. 40 Mobil tersebut termasuk untuk pesanan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto.

"Penyerahan secara simbolis kemungkinan akan kita lakukan untuk Pak Joko Kirmanto di Jakarta. Mobilnya sudah kita kirim ke Jakarta. Tinggal menyesuaikan jadwal Pak Joko saja," ujar Humas PT SMK, Sabar Budi ketika dihubungi merdeka.com Kamis (11/4).

Sabar menuturkan, PT SMK selaku perusahaan yang memproduksi mobil Esemka, terus melakukan proses perakitan mobil di Tangerang. Pihaknya juga sudah mendistribusikan mobil kepada 40 pemesan pertama, di berbagai kota antara lain Jakarta, Solo, Dumai, Surabaya, dan Cilegon.

"Kami sudah kirim ke beberapa kota. Beberapa mobil yang dipesan itu di antaranya Esemka Bima dan Esemka Rajawali," katanya.

Sabar menambahkan, proses perakitan mobil juga terus dilakukan di Tangerang sembari memproduksi prototype mobil varian lain, seperti mini truk. Nantinya prototype tersebut akan diujikan di Balai Termodinamika Motor dan Propulsi (BTMP), seperti halnya mobil Esemka Rajawali dan Bima.

Mengenai pemesan lainnya, Sabar mengatakan, pembeli perdana tersebut akan di-refresh kembali dan akan dihubungi via telepon oleh PT SMK. Selain perakitan di Tangerang, mobil Esemka juga akan dirakit di Lumajang dan Madiun.

"Hingga April 2013 ini, jumlah pemesanan mobil Esemka mencapai 8.000 unit. Tapi ada sekitar 10%-15% yang membatalkan pesanan karena proses produksi yang cukup lama," pungkasnya.

More

Menteri Djoko Kirmanto: Konsumen Mobil Esemka

Ada sesuatu yang menarik di balik peresmian Breaking Trough Underpass Cibubur oleh Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto. Mata para undangan tampak tertuju pada mobil warna hitam yang terparkir di halaman. Ternyata itu adalah mobil Asemka, produksi lokal, milik Menteri Djoko.

Menteri Djoko bertutur, ini merupakan produksi pertama Esemka.  "Saya pesan ke Pak Jokowi. Jika sudah lulus uji, saya pesan yang pertama kali diproduksi,” Menteri Djoko bercerita. Mobil ini aman dan nyaman.”
Menurut dia, mobil itu belum genap berumur 1 bulan. Harga yang ditawarkan pabrikan sesuai dengan fasilitas yang diberikan. Harga off the road mobil Esemka itu sebesar Rp 140 juta. "Kalau on the road mungkin sekitar Rp 150 juta," katanya.

Saat ini, Djoko sedang menguji kekurangan dari mobil itu. Menurut dia, keluhan yang ditemui ada pada masalah kopling dan pintu. Pintu mobil itu sulit untuk ditutup.

"Biasanya mobil menteri otomatis terkunci jika ditutup, tapi mobil ini tidak otomatis," Djoko menjelaskan. Djoko berjanji akan memberikan catatan kekurangan mobil produk dalam negeri ini ke pabrikannya agar dilakukan perbaikan.

More

Beli Mobnas: Menpora Roy Suryo Sudah Terima Mobil Esemka

Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo dikenal sebagai menteri yang mendukung mobil karya anak bangsa, Esemka. Roy mengaku dia sudah mendapatkan Esemka yang dahulu dipesannya.

Pria kelahiran 18 Juli 1968 tersebut menuturkan kalau mobil double cabin Esemka Digdaya buatan siswa SMK tersebut dia telah terima.

"Tapi saya masih taruh di Solo. Biar SMK memamerkannya. Daripada ditaruh garasi, lebih baik diperlihatkan ke masyarakat agar masyarakat bisa melihat dan mencobanya," kata pria yang bernama lengkap Kanjeng Raden Mas Tumenggung Roy Suryo Notodiprojo tersebut.

Dia menuturkan hal itu saat berkunjung ke arena Indonesia International Motor Show di JI Expo, Kemayoran, Jakarta, Kamis (26/9/2013) malam.

Dia lalu menegaskan kalau Esemka haruslah didukung. "Kalau merek asing saja didukung, merek Indonesia seperti Esemka juga harus kita dukung bersama," tegasnya.

Dukungan Roy terhadap Esemka memang tidak main-main, saat Esemka diuji emisi ke Tangerang, dia bersama Wakil Walikota Surakarta (sekarang Walikota Surakarta) FX Hadi Rudyatmo menyetir mobil tersebut ke Jakarta.

Sumber

Ancor Car: Buatan Kamboja

Written By Redaksi on Sunday, September 22, 2013 | 9:11 PM

Hebat, tanpa banyak retorika, Kamboja produksi mobil listrik sendiri


A Cambodian-produced electric car, the Angkor EV 2013, was officially unveiled yesterday by the Heng Development Company, based in Kandal province.

Heng Development general director Seang Chan Heng said the car, designed by local innovator Nhean Phalloek, was a great achievement.

Nhean Phalloek said the battery-powered Angkor EV 2013 could travel 300 kilometres between charges and had a top speed of 60 kilometres an hour.

Seang Chan Heng blamed delays in building the car, intended for use in the domestic market, on a former business partner who dropped out of the project.

In March, 2011, Seang Chan Heng signed a memorandum of understanding with the Chou Leang Alliance Group and Nhean Phalloek in a $20 million deal to produce between 500 and 1,000 battery-powered cars a year, using 300 workers.

“I am really disappointed in [the] partner company, which had co-operated with us in the past,” she said.

“I waited [for] them day after day, month after month, for six months without samples and moulds.”

Seang Chan Heng said that although the Angkor EV 2013 had been unveiled, the number of cars that would be produced each year, and the amount of any new investment necessary, was not yet known.

“In 2013, we will sell some cars in the market, but the actual number we don’t know yet,” she said.

“But I can assure you that... my company and Mr Phalloek will have some cars for sale.”

The price of the Angkor EV 2013 has yet to be determined, but according to Seang Chan Heng it would be less than $10,000.

The company is looking for technicians to work at the factory, in the Kandal province’s Kandal Stung district.

“From now on, we will have an Angkor car that has been produced by Khmers,” Seang Chan Heng said.

“We have everything. We can show pictures of the car, and we are waiting to get orders from customers.

“We will start to produce the Angkor car in the market. ”

Some components of the Angkor EV 2013 were produced in Cambodia.

Other components were imported from China, Japan and Germany, according to Nhean Phalloek.

He added that the recent opening of an automotive-parts factory in Koh Kong province was a good signal for domestic auto production, as fewer components would have to be ordered from abroad.

Spare parts produced in Cambodia were cheaper and could be supplied more quickly, Nhean Phalloek said.

National Assembly Vice President Khoun Sodary said the creation of the Angkor 2013 was a sign of the pride of Khmer people.

“We have a history of wonderful citizens and culture,” she said.

In January 2009, two villagers were shot and wounded by military police while trying to prevent bulldozers from starting work on the car factory, as part of a dispute over ownership of the land.

Tempo.co: Apa Kabar Mobil Esemka? Ini Kata Jokowi

Written By Redaksi on Saturday, September 21, 2013 | 5:39 AM

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, yang akrab disapa Jokowi, menyatakan, pemerintah pusat masih angin-anginan memperlakukan industri lokal. Pemerintah, menurut dia, sangat kurang ketika diminta dorongan pada rintisan industri lokal khususnya otomotif yang mencoba berkembang sehingga pabrikan luar terus mendominasi tanpa pesaing dari dalam.

Ia mencontohkan, ketika mempersiapkan mobil Esemka. Mobil rakitan yang pernah coba dirintis di Solo saat ia masih menjadi wali kota itu pun kandas sebagai alternatif mobil nasional. Ia menyatakan bidang industri apa pun, pemerintah tetap kuncinya. Apa industri itu bisa berkuasa di rumah sendiri. "Padahal (Esemka) itu kami siapkan lima tahun. Uji emisi sudah lolos semua. PT (Persoroan Terbatas) juga sudah siap. Tapi enggak ada support pemerintah, jadi ya...," katanya.

Pernyataan ini, menurut dia, bukannya anti-asing yang senantiasa kolot menolak masuknya segala produk dari luar negeri. "Saya tegaskan sekali lagi, saya bukan anti-asing," kata Jokowi, saat menghadiri dialog pendidikan di Yogyakarta, Sabtu, 21 September 2013.

Pernyataan tersebut dilontarkan mantan Wali Kota Solo itu ketika seorang peserta dialog menanyakan sikapnya soal kebijakan pemerintah tentang peredaran mobil murah. Jokowi sendiri menjadi satu kepala daerah yang tak setuju kebijakan tersebut.

Jokowi menyatakan, ia tak mempersalahkan jika jalanan di Indonesia, khususnya Jakarta, dibanjiri dengan mobil pabrikan luar negeri. "Sudah saatnya melihat jalanan sendiri, kita menemukan produk Indonesia ada di samping produk Jepang, Korea, Malaysia itu," ujarnya serius.

Ia mempersilakan pemerintah terus menerus mengundang investor asing masuk ke Indonesia selama itu menyejahterakan nasib masyarakat. Meski untuk merealisasikan mimpi melihat produk mobil lokal beredar di jalanan sekarang prosesnya lama, menurut Jokowi seharusnya menjadi prioritas pemerintah. "(Industri mobil lokal) itu bisa jadi sesuatu yang prinsipil, yang asli dan original Indonesia, yang bisa dibanggakan. Karena sekarang banyak produk tak prinsipil sudah ikut masuk ke Indonesia," tuturnya.

Sumber

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. CAR&AUTOnews - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger