Arah Baru Ekonomi Suriah
Pergeseran penguasaan di lapangan kembali mengubah peta ekonomi Suriah, terutama di wilayah utara dan timur yang selama bertahun-tahun berada di luar kendali penuh pemerintah pusat. Perkembangan ini membuka jalan bagi Damaskus untuk kembali mengakses sumber-sumber daya strategis yang selama konflik menjadi tulang punggung ekonomi bayangan.
Perusahaan Minyak Nasional Suriah mengumumkan bahwa pihaknya mulai mengambil alih sejumlah ladang minyak di kawasan Tabqa. Langkah ini menandai kembalinya negara ke salah satu simpul energi terpenting di sepanjang Sungai Efrat.
Penguasaan ladang minyak tersebut tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari perubahan keseimbangan kekuatan yang lebih luas, seiring mundurnya kelompok bersenjata dari sejumlah wilayah penghasil sumber daya alam.
Minyak dan gas selama ini menjadi sumber pemasukan terbesar yang hilang dari kas negara akibat perang. Dengan kembali dikuasainya ladang-ladang itu, pemerintah Suriah berpeluang memulihkan aliran pendapatan vital yang lama terputus.
Selain energi, wilayah yang kini kembali berada di bawah kendali pemerintah juga dikenal sebagai lumbung pertanian. Daerah-daerah sekitar Tabqa, Raqqa, dan Deir Ezzour selama ini menghasilkan gandum, kapas, dan komoditas strategis lainnya.
Kapas Suriah, yang dahulu menjadi salah satu ekspor unggulan, sempat terpuruk akibat konflik dan fragmentasi wilayah. Dengan kembalinya kendali administratif dan keamanan, rantai produksi dan distribusi kapas diharapkan dapat dihidupkan kembali.
Gandum memiliki arti yang lebih sensitif lagi karena menyangkut ketahanan pangan nasional. Penguasaan ladang gandum di wilayah timur Efrat memungkinkan pemerintah mengurangi ketergantungan pada impor di tengah tekanan sanksi ekonomi.
Pergeseran ini juga berdampak langsung pada pasokan gas alam. Gas yang dihasilkan dari ladang-ladang timur Suriah berperan penting dalam pembangkit listrik dan industri, sektor yang selama ini mengalami krisis kronis.
Pemerintah menilai bahwa kembalinya sumber daya ini akan memperkuat stabilitas fiskal negara. Pendapatan dari minyak, gas, dan pertanian diproyeksikan menjadi fondasi pemulihan ekonomi jangka menengah.
Dalam pernyataan resminya, otoritas energi menegaskan bahwa pengelolaan ladang-ladang tersebut akan dilakukan secara terpusat dan bertahap. Prioritas awal adalah mengamankan fasilitas dan memulihkan produksi ke tingkat operasional minimum.
Kembalinya kontrol negara juga berarti terhentinya aliran pendapatan kelompok non-negara yang selama ini memanfaatkan sumber daya tersebut. Pemerintah menyebut langkah ini sebagai bagian dari pemulihan kedaulatan ekonomi.
Pendapatan yang sebelumnya berada di luar sistem negara kini diharapkan masuk ke kas resmi. Dana ini diproyeksikan untuk membiayai layanan publik, pembayaran gaji, dan proyek infrastruktur dasar.
Selain itu, Damaskus mulai membuka wacana investasi asing di sektor energi dan pertanian. Stabilitas keamanan menjadi prasyarat utama untuk menarik modal dan teknologi yang dibutuhkan.
Investor dipandang penting untuk memulihkan ladang minyak yang rusak akibat perang dan kurangnya perawatan. Dengan investasi baru, kapasitas produksi diyakini dapat ditingkatkan secara signifikan.
Di sektor pertanian, pemerintah menargetkan normalisasi musim tanam dan distribusi pupuk serta benih. Kembalinya kontrol atas lahan subur memungkinkan perencanaan pertanian nasional dilakukan lebih konsisten.
Dampak sosial dari pergeseran ini juga diharapkan terasa langsung. Lapangan kerja di sektor energi dan pertanian diproyeksikan kembali terbuka bagi warga lokal.
Bagi pemerintah, pemulihan sumber daya bukan semata soal ekonomi, tetapi juga soal legitimasi negara. Penguasaan atas minyak, gas, dan pangan dipandang sebagai simbol kembalinya fungsi negara di wilayah konflik.
Namun, tantangan tetap besar. Infrastruktur yang rusak, sanksi internasional, dan keterbatasan teknologi menjadi hambatan nyata dalam memaksimalkan potensi sumber daya tersebut.
Meski demikian, perubahan di lapangan memberi Damaskus ruang bernapas yang lebih luas. Setiap ladang minyak dan hektare gandum yang kembali dikelola negara memperkuat posisi ekonomi Suriah.
Para pengamat menilai momentum ini krusial. Jika dikelola dengan stabil dan inklusif, pendapatan dari sumber daya alam dapat menjadi motor awal rekonstruksi pascaperang.
Pada akhirnya, pergeseran penguasaan ini bukan hanya soal peta militer, melainkan tentang siapa yang mengendalikan denyut ekonomi Suriah. Bagi pemerintah, kembalinya minyak, gas, gandum, dan kapas adalah langkah awal menuju pemulihan negara yang lama terpecah oleh konflik.
Arah Baru Ekonomi Suriah
Reviewed by Redaksi
on
5:46 PM
Rating:







Post a Comment