Header AD

Suriah: Jejak Arab Kuno Jazira Furat


Sejarah kawasan Jazira Furat atau Mesopotamia Hulu kembali menjadi perdebatan seiring menguatnya narasi politik kontemporer di Suriah timur laut. Wilayah yang kini kerap diperdebatkan identitas historisnya itu ternyata memiliki rekam jejak panjang sebagai tanah yang dihuni dan dikuasai komunitas Arab jauh sebelum datangnya Islam.

Dalam wacana modern, sebagian kelompok sering melabeli penduduk Arab di Jazira Furat sebagai pendatang atau “kolonis”. Klaim tersebut bertolak belakang dengan kesaksian sejarah klasik yang justru menempatkan Arab sebagai elemen asli dan dominan di kawasan tersebut sejak ribuan tahun lalu.

Sumber-sumber Asyur kuno menunjukkan bahwa Jazira Furat telah lama dihuni oleh suku-suku Arab. Bahkan pada masa Kekaisaran Akhemeniyah Persia, wilayah ini dikenal dengan nama Arabai atau Arabaya, sebuah penamaan administratif yang merujuk langsung pada identitas etnis penghuninya.

Di kawasan ini pula pernah berdiri kerajaan-kerajaan Arab kuno seperti Singara di sekitar Sinjar dan Hatra yang masyhur sebagai pusat peradaban dan perdagangan. Kota-kota tersebut dalam catatan klasik juga dilekatkan dengan sebutan Arabaya, menegaskan karakter Arab wilayah tersebut.

Kesaksian penting datang dari Xenophon, sejarawan dan jenderal Yunani abad ke-5 sebelum Masehi. Dalam karyanya, ia menyebut bahwa bangsa Arab dan Asyur berperang melawan Akhemeniyah di tanah mereka sendiri di Mesopotamia, sebuah indikasi kuat tentang keberadaan Arab sebagai penduduk lokal.

Dalam catatan lain, Xenophon menuliskan perjalanannya melintasi “Arabia” dengan Sungai Efrat berada di sisi kanannya. Deskripsi geografis ini menunjukkan bahwa wilayah yang ia sebut Arabia merujuk langsung pada Jazira Furat.

Pernyataan Xenophon menjadi signifikan karena ia hidup sekitar 430 SM, lebih dari seribu tahun sebelum Islam. Ini memperkuat argumen bahwa identitas Arab di Jazira Furat bukanlah fenomena pasca-Islam, melainkan berakar sangat dalam.

Kesinambungan identitas ini berlanjut hingga era Romawi. Marcus Tullius Cicero, negarawan dan orator Romawi, dalam suratnya pada 51 SM menyebut pasukan di Jazira Furat sebagai orang Arab yang diperlengkapi menyerupai tentara Parthia dalam konteks perang Romawi–Parthia.

Dalam surat lain pada tahun yang sama, Cicero memuji seorang tokoh bernama Iamlichus atau Yamluk, yang ia sebut sebagai pemimpin Arab. Tokoh ini digambarkan sebagai sekutu penting Roma dan sumber intelijen berharga terkait kekuatan Parthia.

Catatan tersebut menunjukkan bahwa suku-suku Arab bukan hanya penduduk pasif, melainkan aktor politik dan militer aktif yang memainkan peran strategis dalam konflik kekaisaran besar pada masanya.

Sejarawan Romawi Dio Cassius juga mencatat bahwa kampanye Lucius Verus di Mesopotamia disebut sebagai “perang Arab melawan Persia”. Frasa ini menegaskan persepsi Romawi bahwa Jazira Furat adalah wilayah Arab yang menjadi medan konflik utama.

Strabo, ahli geografi terkemuka Romawi, menggambarkan Jazira Furat sebagai wilayah yang dikuasai oleh kepala-kepala suku Arab. Ia mencatat bagaimana para pemimpin Arab ini secara pragmatis memilih berpihak pada Romawi atau Parthia sesuai kepentingan politik mereka.

Strabo juga menyebut seorang pemimpin Arab bernama Alkhidimenos, yang dinilainya cenderung berpihak pada kekuatan dominan. Ia memimpin suku Rhambaei, yang oleh sejumlah sejarawan diidentifikasi sebagai bentuk Helenisasi dari nama Rabi‘ah.

Identitas Arab di Jazira Furat semakin diperkuat oleh Plinius Tua. Ia menyebut wilayah Amanus, Edessa, dan Commagene sebagai kawasan Arab. Di sisi timur Jazira, Plinius juga mencatat Singara sebagai ibu kota suku Arab bernama Preatavi, yang kemungkinan merujuk pada Bani Tayy.

Plutarch menambahkan kesaksian serupa dengan menyebut Pegunungan Amanus sebagai daerah yang dihuni orang Arab. Ia juga menyebut Abgar, raja Edessa, secara eksplisit sebagai raja bangsa Arab.

Dalam catatan Dio Cassius mengenai kampanye Kaisar Trajan, Hatra disebut sebagai bagian dari Arabia. Bahkan ketika Trajan gagal menaklukkan kota tersebut, Dio Cassius menulis bahwa sang kaisar “meninggalkan Arabia”.

Penamaan ini tidak berhenti pada era Romawi. Pada masa Sassania, wilayah Mesopotamia Hulu dikenal sebagai Arbāyistān atau Arabistan. Dalam bahasa Suryani, kawasan itu disebut Bet Arabaya, nama yang tercatat dalam inskripsi resmi kerajaan.

Nama Arabaya juga muncul dalam prasasti Ka‘bah Zoroaster milik Raja Shapur Sassaniyah. Ini menunjukkan kesinambungan administratif dan etnis Arab di kawasan tersebut lintas kekuasaan dan dinasti.

Kesaksian-kesaksian klasik ini berasal dari rentang waktu antara seribu hingga empat ratus tahun sebelum Islam. Fakta tersebut menegaskan bahwa keberadaan Arab di Jazira Furat bukan konstruksi modern, melainkan realitas historis yang terdokumentasi kuat.

Di tengah konflik dan perebutan narasi masa kini, rekam jejak sejarah ini menjadi penting untuk dipahami secara objektif. Jazira Furat bukan ruang kosong yang baru diisi belakangan, melainkan kawasan dengan identitas Arab yang telah terpatri jauh sebelum perubahan politik modern membentuk peta Suriah saat ini.

Suriah: Jejak Arab Kuno Jazira Furat Suriah: Jejak Arab Kuno Jazira Furat Reviewed by Redaksi on 2:40 AM Rating: 5

No comments

loading...

Post AD